INGIN TAHU TENTANG SUMSEL DAN INDONESIA BACA PALEMBANG POS ONLINE.....
TERIMA KASIH ANDA TELAH MENGUNJUNGI BLOK INI. LANJUTKAN....

Senin, 12 Maret 2012

Pohon Pulai Bisa ’Menangis’ Hebohkan Warga Muba 1 komentar

Senin, 12 Maret 2012 |
Jadi Tontonan, Ada yang mengumpulkan Air untuk Obat
    Fenomena alam memang tak bisa dipungkiri dapat terjadi di sekeliling kita. Bahkan kadang hal tersebut jauh dari jangkauan nalar dan akal manusia. Fenomena alam yang biasa dibuat singkat menjadi keanehan, kali ini terjadi di Sekayu di mana sebuah pohon Pulai bisa menitikkan airmata.
    Percaya atau tidak, keanehan terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Palembang-Jambi. Tepatnya di Dusun 1, Desa 108, tepat di Simpang PT Aluk, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Keanehan itu terjadi pada salah satu pohon Pulai yang bisa mengeluarkan air mata. Pada saat-saat tertentu, turun
    Keanehan yang awalnya hanya menjadi bisik-bisik ini, akhirnya menyebar luas. Dan masyarakat pun menjadi heboh. Tak hanya warga Sekayu, tapi juga warga dari tempat yang lebih jauh. Mereka pun akhirnya berbpndong-bondong ke tempat pohon pulai tersebut berada.
    Tak hanya sekedar melihat, mereka yang datang juga punya pikiran bermacam-macam. Ada yang menganggap itu sebagai keanehan biasa, tapi ada yang percaya bahwa itu merupakan mukjizat. Malah ada yang percaya bahwa air yang diteteskan pohon tersebut punya khasiat obat. Sehingga ada sebagian warga ayang mengumpulkan tetesan air tersebut untuk obat.
    Sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin (10/3) Palembang Pos juga mendatangi pohon aneh tersebut untuk membuktikan kebenarannya. Dan ternyata, di sekitar pohon sudah ada puluhan orang yang datang dengan maksud sama. Mereka yang rata-rata datang dengan kendaraan bermotor itu bergerombol di bawah pohon yang tingginya lebih 20 meter dan berdiri kokoh di pinggir Jalinsum tersebut.
    Awal mula munculnya khabar pohon bisa menangis tersebut secara tak sengaja. Dituturkan Baharudin (35), petugas Bagian Pembersihan dan Pemotongan Jalur Pipa PT Pertamina, keanehan itu diketahui usai dirinya menggergaji pohon tersebut menggunakan gergaji mesin karena ada pohon yang tumbang.
    ”Kejadian ini diketahui ketika ada pohon yang tumbang. Karena dianggap membahayakan, pohon ini (Pohon Pulai yang aneh, Red) hendak ditebang,” kata Baharudin.
    Saat berada di bawah pohon sebelum menebang, salah satu teman Baharudin, yakni Anang (30), merasakan hal yang aneh. Pada saat itu kondisi terang dan bersih. Tapi Anang merasa seperti ada tetesan air seperti gerimis.
    ”Kok hujan gerimis, emangnya lagi hujan sekarang,” ujar Anang seperti ditirukan Baharudin.
    Karena merasa aneh, keduanya pun mencari sumber teteasan air. Sebab saat itu cuaca cerah. Mereka pun berkeyakinan air hujan turun dari pohon pulai tersebut.
    Mendapati hal aneh, Baharuddin dan beberapa temannya mendapat firasat tidak enak. Mereka pun akhirnya menghentikan penebangan. Khususnya batak menebang pohon yang bisa menangis tersebut.
    ”Saat itu saya memang kurang enak badan dan merasa kurang enak badan. Tapi saya tidak tahu apakah faktor usai pohon ditebang atau memang badan saya kurang fit,” jelas Baharudin.
    Setelah itu, entah siapa yang menyebarkan, isu pohon bisa menangis itu menyebar. Salah satu warga yang dekat dengan lokasi, Eko Purdianto (35), mengaku baru kali ini ada tetesan air seperti hujan gerimis yang keluar dari pohon tersebut.
    ”Sejak tiga tahun tinggal disini baru kali ini ada titik air yang keluar dari pohon tersebut, sebelumnya tidak pernah sama sekali,” jelasnya. (*)

read more

Minggu, 11 Maret 2012

Mengenal Wong Fei Hung: Ulama, Pendekar dan Tabib 0 komentar

Minggu, 11 Maret 2012 |
Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Sumber: indospiritual/kaskus.us

read more

Selasa, 28 Februari 2012

Pernikahan Putri H Suparnowonokromo, Ary dengan Landra Meriah 0 komentar

Selasa, 28 Februari 2012 |
Yang berbahagia; dari kiri Pak Suparno W dan ibu, Landra-Ari, serta wali dari mempelai pria.
    Pancaran kebahagiaan tampak memenuhi wajah Ary Kurniati, putri pertama dari H Suparno Wonokromo, Ceo Jawa Pos Group Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) Banten, Jabar dan jateng. Maklum, sejak kemarin, Ary sudah resmi melepas masa lajangnya dan resmi menjadi Nyonya Landra Darusman, putra H M Rusdy Adam Syafei (Alm).
    Prosesi akad nikah yang menggunakan adat Jawa, berlangsung di kediaman orangtua  mempelai wanita, di Jalan Kol. Burlian Lr Suka Bakti No 59 RT 02/01. Tepatnya persis di depan fedung Graha Pena, kantor Sumeks. Prosesi akad nikah yang dimulai pukul 08.00 WIB berlangsung khidmat dan lancar.
    Tak hanya kedua mempelai, pancaran kebahagiaan terlihat di raut wajah orangtua kedua mempelai serta keluarga dan kerabatnya. Semua tamu undangan juga tampak bergembira melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua mempelai.
    Bertindak sebagai saksi nikah adalah H Alwi Hamu, Komisaris PT WSM (Wahana Swasta Merdeka) dan Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin
    ”Jangan lupa salat, harus  bisa mengendalikan emosi karena menyatukan dua sifat yang berbeda itu sangat sulit, jika ada yang keras harus ada yang mengalah,” begitu pesan singkat Hj. Siti Aswani, Ibunda mempelai wanita Ari Kurniati.
    Sementara Sang Ayahanda, H Suparno Wonokromo, mengaku serasa mimpi saja dan belum percaya bahwa putri pertamanya sudah melangkah ke jenjang perkawainan. Pria asal Jawa Timur ini Ari seperti baru ’kemarin’ melihat masa kanak-kanak putrinya. Padahal Ari sudah menyelesaikan sarjananya di Singapura.
    ”Rasanya masih belum percaya. Tapi saya hanya mendoakan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah,” kata Pak Parno, sapaan akrabnya dengan gaya khasnya yang ringan dan santai.
    Setelah melaksanakan prosesi akad nikah, amalamnya dilanjutkan resepsi pernikahan di Hotel Aryaduta pukul 19.00 WIB juga berlangsung meriah namun hikmad. Dihadiri sekitar 1.800 tamu undangan dari berbagai kalangan. Mulai petinggi Jawa Pos, Sumeks Grup, Kepala Daerah se Sumsel, dan pimpinan perusahan swasta yang selama ini menjadi mitra Sumeks Grup.
    Diawali tarian    Tari Lilin Siwa dilanjutkan Tari Ya Saman dan Tari Betuta, pesta yang didesain nuansa khas Palembang berlangsung meriah. Semakin meriah dengan kehadiran Cek Eka dan Ryan Amanda sebagai Master of Ceremony (MC) yang tampil dengan banyolan-banyolan khas.
    Kemudian disusul sambutan pihak keluarga yang diwakili Komisaris Sumeks H Alwi Hamu. Dalam sambutan singkatnya, Pak Alwi yang merupakan tokoh pers nasional dari Makassar ini menyampaikan terima kasih kepada tamu undangan yang hadir ke resepsi pernikahan Ary Kurniati dan Landra Darusman. ”Untuk seluruh tamu undangan yang hadir saya ucapkan terima kasih terutama Dirut Jawa Pos, Komisaris Jawa Pos, kepala daerah serta tamu undangan lain yang telah menyempatkan diri untuk hadir dalam acara ini,” katanya.
    Kemudian Wakil Gubenur Eddy Yusuf tampil mewakili tamu undangan. Dalam sambutan singkatnya, Eddy atas nama seluruh tamu undangan menyampaikan selamat menemupuh hidup baru kepada kedua mempelai. ”Selamat menempuh hidup baru. Kami doakan semoga kebahagiaan bersama kedua mempelai,” kata Eddy.
    Di akhir acara, rektor IAIN Aflatun Muchtar mengajak semua tamu undangan memberikan doa selamat kepada kedua mempelai dan keluarganya.
    Diantara tamu yang hadir Danrem 044/Gapo Kolonel Dwiaynto Budi Prabowo, Bupati OKU Timur H Herman Deru, Walikota Pagar Alam H Djazuli Kuris, Dirut Jawa Pos Ratna Dewi, Komisaris Sumeks Lukman Setiawan, CEO Kaltim Pos Zainal Muttaqin, Komisaris WSM Dwi Nurmawan, Direktur JPNN H Rida K Liamsi, Direktur Radar Banyumas Sudirwan, Komisaris Jawa Po Erick Sudirwan. (*)

Sumber: Palembang Pos

read more

Senin, 20 Februari 2012

Karomah Uwais Al Qarni 0 komentar

Senin, 20 Februari 2012 |
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul.

Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah "Uwais al-Qarni". Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : "Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri". Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh.

Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah.

Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : "Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam.

Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata: "Nama saya Uwais al-Qorni".

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: "Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian".

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: "Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda". Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.

Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami !" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi," Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!"

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: "Apa yang terjadi ?" "Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?"tanya kami. "Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! "katanya. "Kami telah melakukannya." "Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!" Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami. "Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir." "Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya."Ya,"jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya : "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.

Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

Sumber:
Lintas Berita/Indospiritual

read more

Mang Juhai di Facebook

Perlu Anda Tahu

MOTIVASI DBS

  • "Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum tersebut merubah nasibnya sendiri"
  • "Orang sukses bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tetapi orang sukses adalah orang yang paling banyak gagal namun terus bangkit dari kegagalan sehingga menjadi ahli dibidangnya"
  • "Hadapi, hayati & nikmatilah perjuangan Anda, karena sesudah kesulitan ada banyak kemudahan"
  • "Orang sukses jauh dari keluh kesah, malu, minder & putus asa!"
  • MERDEKA & GO FREEDOM!!!
  •  
    Copyright © PALEMBANG NEWS | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog